Monday, January 7, 2008

Memulai Perubahan

FULAN, demikian ia memperkenalkan diri, memandang dengan tajam. ”Saya ini fakir, miskin dan gharim. Anak-anak saya sudah tidak sekolah, saya sudah hancur, bukan lagi diambang kehancuran. Saya hanya perlu 1.3 juta untuk usaha, saya perlu pancing, bukan ikan. Pendidikan dan anak yatim tidak ada didalam (teks) asnaf di Alqur'an, kenapa mereka didahulukan? Demi Allah, keluarkan hak saya dari dana zakat.” ujarnya dengan nada tinggi.

Ungkapan diatas adalah nyata, bukan rekaan. Rasa marah, bingung, kecewa, sedih, sesak bercampur menjadi satu dalam untaian pilihan kata-kata pedas. ”Saya akan adukan ini ke Allah” imbuhnya, menegaskan beban yang amat berat. ”Anda tahu, kita akan dimintai pertanggung jawaban atas semua pemikiran, keputusan dan tindakan kita” adalah ucapan akhir yang melengkapi nasehat Allah SWT yang kami terima melalui mustahiq ini.

Sebagai yang berhadapan langsung dengan mustahiq, itu adalah 'sarapan' sehari-hari. Sebagai amil, ternyata kami punya fungsi lain: pendengar yang baik. Tidak banyak yang dapat dilakukan menghadapi mustahiq dalam kondisi terjepit semacam itu, kecuali mendengar, berempati dan membiarkan semuanya tumpah. Ketika permohonan tak kuasa kami penuhi, setidaknya kami masih bisa jadi tempat berkeluh kesah.

Saudara kita dalam posisi demikian nampaknya memiliki logika: saya orang Islam, sedang kesusahan, ada lembaga pengelola zakat, maka saya harusnya mendapat hak dan bantuan, karena dana itu bukan milik lembaga tersebut. Logika yang sederhana.

Bagi kami, logika tersebut tidak demikian sederhana. Sebagai middle-man, perantara, logika tersebut membuat kami memiliki dua wilayah 'peperangan' sekaligus. Pertama: menjelaskan kepada khalayak mampu tentang kondisi kritis 1/3 saudara dikotanya. Kedua: menjelaskan dengan cara yang tepat kepada mustahiq bahwa dana kami bukannya tanpa batas. Tak mungkin dengan sepuluh kami melayani seratus.

Donatur, menurut sifat alaminya, selalu berkeinginan untuk menyaksikan sendiri bantuannya menyenangkan mereka yang menerima. Dalam prakteknya, sifat itu diterjemahkan menjadi menyalurkan, menyerahkan sendiri bantuannya. Tak ada yang menyanggah tentang bagaimana nikmat Allah menyaksikan keceriaan mereka yang menerima dari tangan kita.

Donatur, menurut sifat alaminya, seringkali tidak memiliki cukup waktu untuk melihat lebih dalam kebutuhan sesungguhnya dari fakir miskin. Pekerjaannya sudah menyita sisa waktunya. Pada gilirannya, donatur hanya punya sedikit pilihan: mencari informasi sekilas atau meniru yang sudah lebih dulu atau meneruskan kebiasaan. Beasiswa, santunan rumah ibadah, santunan yayasan pendidikan Islam, santunan yatim piatu menjadi kegiatan favorit.

Meski disadari bahwa kebutuhan mereka lebih besar dan lebih dalam untuk diselesaikan dengan santunan-santunan konsumtif dan sesaat, namun itu adalah hasil maksimal yang bisa diperoleh dengan upaya dirinya sendiri. Pun demikian dengan waktunya. Kita bisa melihat kecenderungan ramadhan menjadi waktu utama berdagang dengan Allah dengan mengeluarkan hak fakir miskin, menyantuni anak yatim.

Tidak ada yang salah, Allah menjanjikan 'return on investment', hasil / pahala yang lebih besar atas ibadah (perniagaan dengan Allah) dibulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kita semua faham, dan itu yang kita lakukan tahun kemarin, tahun ini dan Insya Allah tahun depan.

Namun demikian, ada fakta yang jelas dan mudah dipahami yang luput dari perhatian: Allah tidak menguji sebagian hambaNya dengan kemiskinan dan kesusahan mulai 1 Ramadhan lalu berakhir 1 Syawal, tapi Dia mengujinya sepanjang tahun menurut kehendakNya.

Pada titik inilah masalah diatas berawal. Agak sulit menjelaskan kepada fakir miskin bahwa lebih banyak yang menyalurkan hak orang lain setahun sekali dan dibulan-bulan tertentu saja. Itupun dibagi kepada puluhan atau ratusan institusi/lembaga sosial dan ribuan fakir miskin di kota ini. Donasi teratur yang memang sedikit itulah yang harus kami bagi untuk semua yang mengajukan dan dalam rentang sepanjang tahun. Sama sulitnya juga mengarahkan mereka untuk langsung mendatangi dan mengetuk pintu rumah individu-individu yang berkecukupan karena sifat azasi lembaga mengharuskan kami lebih mudah diakses. Atau menjelaskan bahwa mengapa lebih banyak donasi diterima untuk pendidikan dibandingkan modal usaha yang menyebabkan ia belum bisa menerima hak untuk bantuan modal usaha.

”Kemana lagi saya harus meminta?” tanyanya dengan nada geram. ”Selain Allah, bapak bisa minta ke pemerintah/walikota, karena tanggung jawab utama terhadap fakir miskin ada dipundak mereka, kami hanya membantu, semampu kami” jawab saya dengan serius, ”kami tengah berusaha, mohon sabar menunggu”

Sesaat, saya membayangkan mungkin akan lebih mudah bagi saya dan bapak ini apabila lebih banyak orang berkecukupan yang bersedia menyalurkan hak orang lain yang Allah titipkan secara rutin setiap bulan, kepada lembaga seperti kami. Kami akan lebih berdaya, lembaga lainnya juga akan berdaya, bapak ini dan bapak-bapak lainnya mungkin tidak perlu mengucapkan seperti diatas hanya untuk mendapatkan haknya.

Namun kami juga harus berbenah, agar program kami lebih dikenal. Kasus diatas menegaskan betapa mengatasi kemiskinan adalah pekerjaan multi dimensi, dan komunikasi yang efektif akan sangat membantu. Tulisan ini dan tulisan-tulisan lainnya dimaksudkan untuk membangun komunikasi dengan anda, donatur yang terhormat. Tujuannya agar kita bisa bersama-sama memulai perubahan untuk peningkatan hidup kita dan tentu saja saudara-saudara kita yang kurang beruntung.(***)

Batam, Oktober 2007

(Ditulis untuk Bulettin Az Zakah DSNI Amanah dan dimuat di www.dsniamanah.or.id)

Friday, January 4, 2008

Haji Wan

Haji Wan. Demikian ia biasa dipanggil. Tidak ada yang istimewa dari penampilan lelaki peranakan cina melayu itu. Ia tinggal dikampung nelayan di kawasan galang, yang listriknya lebih sering mati dari hidup. Ia berprofesi sebagai toke, istilah yang digunakan untuk pengepul ikan dari nelayan.

Selain sebagai toke, ia aktif sebagai imam masjid bersama dengan seorang haji lainnya. Cara berpakaian menunjukkan ia memiliki pandangan berbeda dalam beberapa hal di wilayah hilafiyah dari masyarakat kebanyakan . Pun demikian, ia sangat dekat dengan masyarakat yang sangat menghormatinya.

Sekali lagi, tidak ada yang istimewa darinya kecuali cara ia mengajak masyarakat memakmurkan masjid di Ramadhan dan Idul Fitri. Sebuah cara yang luar biasa yang belum pernah saya temukan didusun-dusun nelayan di hinterland, setidaknya sampai saat ini.

Warga dusunnya bukanlah orang-orang yang pandai menabung. Selain karena kebutuhan hidup, pola masyarakat yang konsumtif seringkali menyebabkan penghasilan dari menangkap ikan tidak berbekas, kecuali untuk rumah dan perlengkapannya. Infaq Ramadhan dan Idul Fitri yang tidak telalu besar sangat merisaukan hatinya, ditambah dengan keluhan orang tua memenuhi tuntutan anak-anak mereka menjelang hari raya.
Mencoba mengatasi hal tersebut, lepas ramadhan tahun lalu ia menerapkan satu pendekatan yang unik.

Ia mengajak para nelayan yang biasa menjual ikan kepadanya berunding. Ia menawarkan diri untuk memotong Rp. 500 – Rp. 1000 dari setiap kilogram hasil penjualan mereka dan menyimpannya. Ia menjelaskan uang tersebut akan dikembalikan menjelang hari idul fitri tahun depannya.

Tak banyak yang berminat pada awalnya. Dari 40-an nelayan, 7 diantaranya bersepakat. Maka Haji Wan pun secara istiqamah memotong, mencatat dan menyimpan potongan hasil penjualan itu. Uang itu ia simpan dirumahnya, karena memang ia tidak memiliki alternatif lain.

Awal Ramadhan kemarin, ia membagikan hasil pemotongan selama setahun. Ia mengembalikan uang 2 – 6 juta rupiah kepada 7 nelayan tersebut seraya menekankan untuk menginfaqkan sebagian dari uang tersebut pada masjid, baik infaq ramadhan maupun sholat Idul Fitri. Mereka mendengarkan nasihat itu dan mematuhinya.

Pada perhitungan akhir, infaq ramadhan melonjak sampai tiga kali lipat dan infaq sholat Idul Ftri bertambah dua kali lipat. Ke – 7 keluarga nelayan tersebut juga secara nyata mampu merayakan hari raya tersebut dengan lebih baik. Kini, berbondong-bondong nelayan mendengar nasihatnya dan mengikuti jejak 7 nelayan terdahulu.

Pendidikan Haji Wan hanyalah lepas sekolah dasar, namun ia behasil menemukan kearifan dalam memahami masalah. Ia menggunakan apa yang ia miliki, ia mengambil tindakan menurut mampunya, beristiqamah dan akhirnya menghasilkan solusi cerdas bagi problematika masyarakatnya.

Mencoba menjadi Haji Wan, saya berusaha memahami apa yang ada dibenaknya ketika ia memulai upayanya tersebut. Saya berharap kita bisa menemukan intinya dan mengaplikasikannya dilingkungan kita. Pertanyaan-pertanyaan berikut menggelayut dikepala: potensi apakah yang sesungguhnya kita miliki? Potensi apa yang dimiliki oleh Haji Wan yang tidak kita miliki?

Apapun itu, Haji Wan menunjukkan satu hal: semua kita memiliki sesuatu untuk merubah keadaan. Kita tidak perlu menunggu hingga semua siap untuk memperbaiki keadaan. Haji Wan menggunakan posisinya sebagai toke sebagai alat berdakwah, bukan posisinya sebagai haji atau imam masjid. Ia tidak berdakwah dengan bicara, ia bertindak. Ia tidak cuma bicara ayat dan hadist, ia langsung mempraktekkannya.

Setiap membayangkan sosoknya, selalu terngiang kata-katanya: "Allah tidak berkehendak semua menjadi ustadz, maka lakukanlah sesuatu menurut cara dan mampu kita. Yang mulia adalah mereka yang melakukan, bukan yang hanya bicara, karena Rasulpun seorang pedagang".

Upaya apakah yang sudah kita lakukan minggu ini untuk umat? Marilah kita membayangkan pertanyaan itu Allah SWT ajukan pada kita dihari perhitungan kelak, seraya bersabda" Bukankah sudah kuberikan hartaKu padamu? Bukankah sudah kutitipkan ilmuKu padamu? Bukankah sudah kau dengar ucapan rasulKu untukmu? Bukankah telah datang fakir miskinKu kedepan pintu rumahmu?"

Sungguh pada hari itu, tak ada retorika yang bisa menyelamatkan kelalaian kita.
Batam, November 2007

(ditulis untuk Bulettin Az Zakah DSNI Amanah dan dimuat di www.dsniamanah.or.id)

VISIT INDONESIA YEAR 2008